Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 September 2016

(ke) - Yakin - (an)

Posted by Ryan 15.36

Dalam sebuah perjalanan yg panjang tentang keyakinan, manusia akan selalu bersinggungan dengan persimpangan yg akan mempertanyakan/menguji kembali keyakinannya. Persimpangan yg mengaburkan arah perjalanannya mengenai keyakinan.

Contoh sangat sederhana adalah tentang perjalanan yg akan ditempuh menuju sekolah, tempat kerja atau apapun itu. Begitu banyak cabang jalan yg akan ditemui, yg kadang mungkin menggoda untuk dicoba. Alasan dari mencoba arah baru tersebut tentu beragam, menghindari macet, jalannya lebih baik secara fisik atau mengelak dari petugas lalu lintas yg "licik".

Selalu ada alasan yg dirasa kuat untuk merubah rute perjalanan untuk meraih tujuan. Kadang bimbang menyelinap datang, berbisik busuk tentang arah & tujuan. Menguji seberapa besar keyakinan tentang pilihan yg telah diputuskan dengan pertanyaan - pertanyaan yg kadang terdengar menggelikan namun juga menguatkan.

Keyakinan adalah ruang dimana segala pertanyaan yg kadang sukar utk dicerna akal sehat hadir dengan menuntut  jawaban.

Seperti Nabi Ibrahim yg dalam perjalanannya meyakini (ke)-Tuhan-(an), sang maha kuasa pemilik semesta.

Keyakinannya mengenai Tuhan diuji dengan pertanyaan (perintah lebih tepatnya) untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail. Nabi Ibrahim menerima perintah tersebut melalui mimpi (betulkan jika saya salah). Mimpi - mimpi yg hadir tiap malamnya.

Butuh waktu bagi Nabi Ibrahim untuk menafsirkan semua mimpinya itu & meneruskan ke anaknya sendiri bahwa ada perintah dari Tuhannya mengenai penyembelihan tersebut.

Kita semua tahu akhir dari cerita itu.

Atas keyakinannya yg kuat terhadap tujuan yg ia buat, Tuhan mengganti Ismail anaknya dengan domba. Sebuah peristiwa besar dalam sejarah umat (Muslim) dunia yg mengajarkan bahwa dalam proses perjalanan mencapai tujuan ada kepatuhan - kepatuhan yg harus dijalankan dengan penuh kerelaan.

Perintah penyembelihan adalah bagian dari persimpangan yg ditemui oleh Nabi Ibrahim dalam mencapai tujuan yg ia yakini, Allah SWT.

Simpang jalan yg cukup "menggelikan" tersebut berhasil di lewati dengan elegan oleh Nabi Ibrahim.

Dalam perjalanan, akan selalu ada simpang yg akan mempertanyakan arah & tujuan yg terkadang menuntut kita untuk melepaskan hal - hal yg dikira baik. Butuh jernihnya pikiran & kuatnya keyakinan utk mencerna setiap persimpangan yg ditemui.

Karna terkadang yg salah bukanlah arah yg dipilih namun bisa jadi tujuan yg telah ditentukan. Dalam proses untuk menemukan, akan banyak hal - hal baru yang hadir memberikan sudut pandangan berbeda mengenai tujuan yg telah ditetapkan. Yg bisa jadi akan menggeser tujuan lama dengan destinasi yg baru.

Dan saat itu terjadi, butuh kerelaan yg cukup besar untuk melepaskan hal yg dikira baik demi kebenaran (kebaikan) yg belum diketahui.

Setiap kehilangan pasti menyisakan ruang utk diratapi. Namun, meminjam frasa Adimas Imanuel, "setiap kehilangan bukan tentang kemungkinan bersedih karena tetapi kepastian berbahagia tanpa".

Setiap keyakinan yg dijatuhkan haruslah menghadirkan kebahagiaan sebagai lakon utamanya. Untuk apa melakukan perjalanan yg begitu melelahkan & melibatkan pertentangan jika bukan kebahagian yg menjadi ganjaran.

Yaa.... pada akhirnya setiap keyakinan yg diyakini haruslah berlandaskan tujuan akan kebahagiaan... yang hakiki.

Seberapa yakin kamu dengan keyakinan yg kamu yakini sekarang ?







Rabu, 31 Desember 2014

Refleksi

Posted by Ryan 09.24
Sudah berapa banyak angka yang kau lalui sampai hari ini, ribuan hari ? puluhan tahun. Semuanya hanya angka yang mungkin tidak berarti banyak bagi hidup, karna sesungguhnya hidup terlalu sempurna untuk dikalkulasikan. Tak percaya ? coba hitung berapa banyak nikmat dan kesenangan yang telah kau alami sampai tahun ini menyentuh hari ke 365 ? tak terkira bukan. Memang hidup bukan hanya tentang kebahagiaan, ada perih, sedih yang menyayat hati, namun jika kita bisa melihat dari sisi yang berbeda justru saat itulah kita benar – benar kuat dan tak akan begitu saja menyerah, karna sesungguhnya tuhan tidak pernah meninggalkan umat-nya sendiri melewati kepedihan. 

Jika kau menganggap tahun ini tak berjalan baik untukmu, coba kau hitung lagi berapa banyak karunia sang maha besar yang telah kau rasakan hingga hari ini, hidup memang terlalu sempurna jika hanya dijabarkan dengan angka, iya kan ?.

Angka – angka yang sudah kita lalui sampai hari ini tak lebih dari sebuah cermin yang merefleksikan apa saja yang sudah – belum – dan akan kita gapai. Tengoklah kembali cerminmu dan lihat ada yang terdapat di dalamnya. Jika yang tampak pada cerminmu adalah sesuatu yang sudah kau gapai, maka bersyukurlah, karna hidup kembali memberimu nikmat. Jika yang tergambar adalah sesuatu yang belum kau capai maka bergegaslah, karna waktu tak pernah menunggu meskipun itu untuk sekedar merapikan tali sepatu. Dan jika yang kau lihat adalah sesuatu yang akan kau kejar maka bergembiralah, karna kau tahu kemana kau akan melangkah.

Apa yang kau lihat dari cerminmu saat ini ?

Rabu, 01 Oktober 2014

Pilkada Langsung Atau Tidak

Posted by Ryan 02.04
Belakangan ini banyak pemberitaan mengenai di-sahkan-nya RUU Pilkada menjadi Undang – Undang pada sidang paripurna DPR. Terjadi pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat tentang RUU Pilkada ini, karena jika disahkannya RUU ini menjadi undang-undang akan merebut hak masyarakat untuk ikut menentukan siapa pemimpin mereka. Banyak yang menilai bahwa di-sahkan-nya RUU tersebut adalah kemunduran dalam kehidupan berdemokrasi di republik ini, yang mana selama 10 tahun terakhir sistem pemilihan langsung menjadi sistem yang digunakan untuk menentukan pimpinan di suatu daerah baik kabupaten/kota atau provinsi (kecuali kotamadya Jakarta dan Provinsi DIY). Pengembalian sistem pemilihan kepala daerah dari dipilih secara langsung oleh masyarakat menjadi kembali dipilih oleh DPRD memang adalah sebuah tragedi dalam kehidupan berdemokrasi. Kesempatan masyarakat untuk mengetahui track record calon pemimpin di daerahnya menjadi berkurang atau bahkan hilang, masyarakat harus menerima siapapun pimpinannya, jika diibaratkan dalam pernikahan, masyarakat harus menerima siapapun calon mempelainya meskipun ia tak sama sekali mengenal dan mencintainya. Sounds like Siti Nurbaya’s Story ? yess... 

Memang dalam perjalanannya selama 10 tahun terakhir banyak terjadi masalah dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung seperti konflik horizontal ditengah-tengah masyarakat karena calon pimpinan mereka gagal, mahalnya biaya yang harus negara sediakan untuk proses ini, juga mahalnya biaya kampanye yang harus dikeluarkan oleh calon pimpinan. Namun tak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya, lets break this down... dalam kasus timbulnya konflik yang terjadi di tengah masyarakat jika calon yang mereka usung kalah, menurut saya itu adalah  belum dewasanya masyarakat dalam menyikapi kekalahan, dan justru proses pilkada langsung adalah sarana untuk pendewasaan diri bagi masyarakat dalam kehidupan berdemokrasi . Setelah puluhan tahun masyarakat terbiasa hanya menerima, masyarakat pasti merasa kurang siap dengan sistem baru yang sebenarnya berdampak baik untuk mereka. Adalah Tugas pemerintah untuk mengedukasi masyarakat tentang kehidupan  berdemokrasi, tentang menerima kekalahan dan juga menghormati mandat yang diberikan oleh rakyat, Soo.. don’t hate the game, hate the player.  Alasan besarnya anggaran yang keluar untuk mengakomodir proses ini memang benar, namun hal itu bisa diatasi dengan sistem e-Voting misalnya. Kapan kita bisa mengadopsi sistem tersebut ? memang butuh waktu yang panjang, karna sesungguhnya pun sistem pemilihan secara langsung baru berumur 10 tahun, but i believe we’ll get there,  u may say i’m a dreamer but i’m not the only one.. 

Alasan kenapa saya mendukung proses pemilihan secara langsung adalah karena masyarakat punya kesempatan besar untuk menempatkan orang-orang terbaik untuk menjadi pemimpin mereka. Kita punya akses langsung terhadap calon pemimpin, kita bisa tahu bibit, bebet dan bobot-nya, tidak seperti Siti Nurbaya yang dipaksa menikah dengan pria asing yang tak ia suka, Datuk Maringgih. 
 
Pemimpin baik macam Jokowi, Ridwan Kamil (walikota Bandung), Bima Arya (walikota Bogor) dan masih banyak lagi adalah produk dari Pilkada langsung, kenapa mereka bisa terpilih ? karena mereka didukung oleh para pemilik suara yang sudah tahu track record mereka. Tahu kualitas dan kapabilitas mereka. Tidakkah kita menginginkan lebih banyak lagi orang baik memimpin negeri ini ?. Memang banyak juga pemimpin yang terpilih secara langsung memiliki kinerja yang buruk dan bahkan terjerat korupsi, tapi tidak semua kan ? seperti yang saya bilang diatas, yang salah itu orangnya, kalau pemimin tersebut punya integritas yang tinggi pasti tidak  akan mudah terjerat korupsi, sekali lagi don’t hate the game, hate the player.. Munculnya pemimpin daerah yang bermasalah menurut saya juga karena lemahnya kepedulian masyrakat untuk mengenal calon pemimpinnya, dan pilkada langsung adalah filter bagi masyarakat untuk menyaring siapa yang terbaik, kita tidak bisa lagi acuh terhadap proses pemilihan kepala daerah dan kepala negara. Jika masyarakat menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik lagi mereka harus berperan aktif dalam proses pemilihan kepala daerah. 

Proses pemilihan lewat DPRD memang bisa juga menghasilkan pemimpin baik, tapi persentase-nya bisa dibilang kecil karena ada proses terselubung yang tidak rakyat ketahui, rakyat dipaksa menerima tanpa ada kesempatan untuk mengetahui kualitas si pemimpin. Karena tidak pernah ada uji publik terhadap calon kepala daerah. Semuanya dilakukan oleh DPRD, namun jika dilakukan secara langsung masyarakat bisa mengetahui kualitas calon pimpinan. Sekali lagi, alasan saya medukung pilkada langsung karena ingin berpartisipasi dalam proses demokrasi di negeri ini, kita gak bisa lagi hanya menerima apa yang telah diputuskan.  Kita punya hak untuk ikut menentukan...


foto dari news.okezone.com

Rabu, 18 September 2013

Rindu, Senja dan Kamu

Posted by Ryan 06.01


Senja ini, kembali kulabuhkan rinduku pada bayanganmu. Kutambatkan seluruh anganku bersama dengan kembalinya mentari ke peraduan.

Aku kembali menyusuri jejak senyummu yang tertinggal siang itu, senyum terakhir yang kau berikan padaku sesaat setelah aku memberikan sebuah pena untuk kau tuliskan namamu disehelai baju.

Saat itu adalah masa dimana semuanya berhenti bekerja sebagaimana mestinya, aku dengan kaku menawarkan pena itu dan kau dengan senyum indahmu menerimanya dengan penuh suka. Ahh.. tak dapat lagi ku bohongi bahwa kaulah lakon utama dari segala peristiwa yang pernah dipentaskan cinta, alasan mengapa para pujangga tak bisa menuliskannya dalam manuskrip – manuskrip terbaik yang pernah ada.

Tahukah kau bahwa penggalan takdir di lorong itu menjadi kepingan kecil yang selalu ku genggam kemanapun ku rebahkan ragaku ?.

Kini, setelah ribuan hari yang telah terlewati semenjak senyum terakhir mu itu, aku masih mampu menceritakan dengan baik lengkung senyum bibirmu, ayun indah tanganmu saat meraih pena itu, tak sepenggal pun ku lupa.

Aku masih tetap menyesali mengapa saat itu aku tak berkata sepatah bahasa pun padamu, meskipun itu hanya terima kasih. Entah mengapa saat itu semuanya menjadi serba rumit untuk dimengerti persis seperti hujan di bulan juli. 

Seandainya rindu bisa dibahasakan dengan sangat sederhana, mungkin aku tak ‘kan tertatih menggendong bejana rindu ini kemanapun ku pergi. 

Dan disini, saat ini sebelum kemerahan senja memudar dan menghitam, ijinkan ku sampaikan padamu sebuah kebohongan yang paling dicari oleh manusia yaitu kerinduan.

Aku sungguh merindu padamu, Kaulah mula dan muara serta sebab dari segala cinta yang ada.

Minggu, 07 Juli 2013

Ironi

Posted by Ryan 20.09

Piala Dunia U-20 yang sedang berlangsung di Turki telah memasuki babak perempat final. Dari sekian negara peserta yang tersisa ada satu negara yang cukup menarik perhatian saya, yaitu Iraq.

Ya, Iraq negeri seribu satu malam. Negeri yang porak poranda karena perang.

Para pemainnya yang rata – rata masih berusia belasan tahun ini mampu membawa negaranya bertarung di Piala Dunia U-20. Anda bisa bayangkan seperti apa masa kecil yang mereka lalui di negerinya. Penuh dengan desing suara peluru, bom dan tangisan penuh luka.

Tapi anak – anak muda iraq masih mampu membanggakan negaranya, berbakti untuk negara yang masih trauma akan perang.

Pelatih AL AZZAWI Hakeem berhasil memotivasi, mendidik dan mengeluarkan potensi terbaik anak – anak iraq.

Mereka menjalani babak grup piala dunia u-20 dengan rapor yang cukup mentereng. Tergabung dalam grup E bersama Inggris, Chile dan Mesir Jawad Kadhim dkk berhasil lolos ke babak Knock – Out dengan status sebagai Juara Grup. Mereka menjalani laga perdana dengan sangat baik, melawan Inggris mereka bermain dengan penuh determinasi, ngotot dan spartan. Meskipun mereka sempat tertinggal 2-0 sampai menit ke 52 namun mereka tak patah semangat. Perlahan – lahan mereka mulai bangkit. Dimulai dari penalti yang mereka dapat pada menit 75 yang di eksekusi oleh Ali Faez dengan baik lalu mereka membuat pemain masa depan negri ratu elizabeth ini tertunduk lesu ketika Ali Adnan mencetak gol pada menit 93’. Para pemain inggris yang dibina di Akademi sepakbola klub top EPL harus rela berbagi angka dengan anak muda yang untuk berlatih saja mereka sulit karna seringnya terjadi ledakan di negara mereka.

Mari kita tengok apa yang terjadi di negara kita Indonesia. Untuk hal kedamaian tentu kita jauh lebih beruntung dibandingkan dengan para pemain Iraq, tapi dalam hal prestasi sepakbola harus diakui kita jauh tertinggal dari mereka. Untuk level senior dan U-23 tidak ada prestasi yang dapat dipamerkan hingga saat ini. Tahun lalu timnas senior gagal di piala AFF, yang skalanya hanya asean. Bahkan kita harus susah payah mendapatkan satu angka dari Laos pada laga pembuka, negara yang sebelumnya menjadi lumbung gol bagi striker indonesia. Meskipun sempat menang dari singapura kita akhirnya gagal lolos karna kalah dari malaysia dirumah mereka.  Sebelumnya timnas U-23 juga gagal di Sultan Hassanal Bolkiah Trophy, andik dkk kalah dari tuan rumah brunei darussalam di final. Bahkan  brunei kini sudah bisa mengalahkan timnas indonesia. Anda bisa bayangkan Betapa “kurang ajar”-nya mereka terhadap kita sekarang atau mungkin kita yang tidak berkembang, ahh.. kita memang stagnan dalam beberapa tahun terakhir atas nama sportivitas kita harus mengakuinya.

Perbandingan yang sangat jelas terlihat dari kondisi negara dan prestasi sepakbola antara Indonesia dengan iraq. Di Indonesia banyak pemain yang untuk hadir tepat waktu saat pemusatan latihan saja sulit, padahl mereka tidak perlu mencari jalan yang aman dari serangan bom, roket dan ranjau darat sisa – sisa perang seperti yang dilakukan anak muda iraq. Mereka bisa fokus bermain tanpa perlu memikirkan kondisi keluarga mereka seperti anak muda iraq. Semoga saja apa yang dilakukan oleh anak – anak muda iraq dapat menjadi pembelajaran bagi para pemain muda indonesia untuk dapat benar - benar ‘bertarung’ atas nama indonesia. Atau apakah perlu indonesia mengalami apa yang dialami oleh iraq agar setiap warganya benar – benar mengabdi bagi negaranya.

Semoga saja masa ini tak belangsung lama, masa perang yang terjadi di Iraq. Semoga kedamaian yang sesungguhnya dapat tercipta di negeri seribu satu malam tersebut. Dan juga masa kemarau prestasi pada sepakbola indonesia dapat segera berakhir.

Terima Kasih

Nb : Sebelum tulisan ini di Posting Iraq U - 20 berhasil lolos ke Semi Final setelah menang adu penalti melawan Korea Selatan. Surprise? I think So... Selamat Buat Timnas U-20 Iraq.

Teruntuk ; Kamu

Posted by Ryan 04.44

Teruntuk, kamu yang selalu menjengukku dengan senyum ranum yang tak pernah luruh oleh waktu. 

Di setiap embun pagi yang aku tengok tanpa henti, aku selalu mendapati bingkai indah wajahmu yang silih berganti menampakkan perasaanmu tentang kehidupan, hanya kamu tanpa aku.

Pada takdir yang datang dan pergi sesuka hati yang telah mempertemukan kita tanpa menghembuskan rasa pada keduanya. 

Takdir memang luar biasa, mampu membolak-balikkan setiap lembaran cerita yang keseluruhannya hanya tentang-mu, yang sekali lagi tanpa aku.

Terima kasih kepadamu yg tak pernah lelah merayuku untuk menengok kembali kotak masa lalu. Yang keseluruhannya berisi tentangmu. Yang lagi – lagi tanpa aku.

Kini, dibibir senja yang mulai temaram, tlah ku sandarkan semua keyakinan pada malam yang akan mengisi kekosongan alam. Entah kapan pun itu, aku pasti akan kembali bertemu denganmu.

Teruntuk, kamu yang selalu menjengukku dengan senyum ranum yang tak pernah luruh oleh waktu.
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube