Minggu, 10 Juli 2016

Suatu hari, pas lagi scrolling timeline twitter, jari gw tiba2 berhenti pas ngebaca mention-an salah satu pemain sepakbola nasional yg gw follow, dia mention vokalis salah satu band besar indonesia yg kebetulan jg gw follow. Isinya sih cuma banter (ejekan) biasa, kebetulan si pemain sepakbola pendukung sisi biru kota Milan & si vokalis pendukung sisi merah kota Milan. Yg membuat gw tertarik dengan cuitan tersebut adalah tanggapan si vokalis terhadap ejekan yg dilontarkan oleh si pemain bola. Si pemain bola bilang kalo si vokalis salah pilih team (di kota Milan) & si vokalis menjawab (menurut gw) dengan sangat elegan, dia menjawab, “dalam cinta tak ada yang salah...”

Kalimatnya gak terlalu panjang, tapi sukses bikin gw mikir. 

Apa iya dalam (jatuh) cinta tak ada yang salah ?. 

Oiya... kebetulan gw juga pendukung sisi merah kota milan (#ForzaMilan, hahahaha...). gw juga gak tw pasti kenapa gw bisa jadi fans AC. Milan, waktu itu gw masih cukup kecil untuk tw kalo gw jatuh cinta sama Rossoneri (Julukannya) & akhirnya sampai sekarang. Selama belasan tahun gw jadi fans Milan, gw pernah atau bahkan sering kecewa sama tim yang gw dukung, mulai dari kalah mulu, ngejual pemain andalannya sampai gak pernah juara liga. Tapi semua kekecewaan itu gak membuat gw lantas berpaling ke tim lain (di Liga Italia) yang sering menang & juara. Gw udah jatuh hati (Raisa Kali aahh.. ) sama AC. Milan, apapun yg terjadi gw tetap Milanisti (sebutan fans AC. Milan). 

Ejekan – ejekan dari temen yg kebetulan fans tim lain gak bikin iman gw goyah dan berpaling dari ajaran Milan-iyah. 

Balik lagi ke pertanyaan di atas, Apa iya dalam cinta gak ada yang salah ?.

Ya... menurut gw, dalam (jatuh) cinta gak ada yang salah. Yg salah adalah ketika kita ngebiarin cinta ngatur kita & menjadi orang yg salah. 

Tapi gimana kalo cinta jatuh pada hati yg salah ?, org yg udah punya pacar, punya tunangan atau bahkan yg lebih horor udah punya suami/istri & anak ? & dan rasa cintanya udah kelewat jauh utk puter balik lagi.
Well... kalo kata Presiden Jancukers Mbah Sudjiwo Tedjo, selamanya, mencinta itu adalah takdir. Kau bisa berencana menikah dengan siapa saja, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa. Dannn... mungkin ada benarnya juga jawaban si vokalis tadi, “dalam cinta tak ada yg salah”. Karna pada hakikatnya Cinta adalah sesuatu yang tunggal & tak ada penyebab ikutan layaknya hal2 lain. 

 


Cinta terjadi begitu saja, it happens when it has to happens. Gak perduli apakah cinta itu untuk org yang emang pas atau gak. Gak ngeliat umur, strata sosial, apalagi (yg lebih spooky) status. 

Yaa... Cinta emang se-kurang ajar itu, gak pake salam, tiba2 langsung masuk ke ruang tengah. Gak pake nanya dulu, udah punya pacar, tunangan atau istri/suami apa belum. Dan sialnya yg kedatangan tamu bernama cinta harus siap nerima, dalam keadaan apapun. Saat cinta datang, ia memaksa subjeknya untuk kreatif dalam mengartikan kehadirannya, tanpa ada clue atau tanda2. Dan pada saat itulah si subjek harus dengan sangat hati2 sekali dalam menafsirkan kehadiran cinta, karna jika salah dalam mengartikannya maka patah hati adalah hukuman yang mutlak menanti untuk dilalui. Itu sebabnya dalam jatuh cinta, jangan biarkan wanginya memabukkanmu. Jatuh cintalah dengan menempatkan sedikit rasionalitas di dalamnya. jangan biarkan akal sehatmu ikut larut dalam romansanya. Seperti org di dalam perahu yg terbawa arus, biarkan ia membawamu kemana saja ia mw tapi jangan buang kayuhmu. Karna itu adalah alat bagimu untuk kembali dari kekecewaan, dari patahnya hati. 

Akal sehat adalah pintu keluar bagi setiap org yang jatuh cinta apapun kondisi yg dihadapi, terlebih lagi patah hati menjadi bagian yg harus dilewati. 

Seperti fans klub sepakbola yg selalu patah hati tiap tim yg didukungnya kalah, akal sehat menjadi medium untuk menilai klub yg kita dukung dengan cukup objektif. Saat kalah ya kalah, tak ada kata kalah terhormat.
Begitu juga dengan jatuh cinta, akal sehat membantu kita dalam proses mengikhlaskan kegagalan yg terjadi, kegagalan dalam membuat cinta juga jatuh pada hati yg dikehendaki.

Tak ada yg sia – sia dengan kegagalan dalam jatuh cinta, kegagalan demi kegagalan yg mungkin telah dilewati justru akan membuat kita semakin terlatih dalam menafsirkan kehadirannya (bukan terlatih patah hati, patah hati kok dijadiin hoby). Apakah itu hanya numpang lewat saja atau memang benar2 rasa yg harus diperjuangkan, apapun resikonya. 

 Cinta adalah rasa yg penuh misteri, datangnya tak seperti hujan yg selalu diawali dengan mendung.
Tapi seperti hujan, kehadirannya selalu dinanti, walau terkadang hujan dapat menyebabkan musibah2 ikutan yg mengakibatkan korban. Namun musibah2 itu justru disebabkan oleh manusia sendiri bukan hal lain. Itu sebabnya cara kita menerima kehadiran cinta menjadi sangat vital agar semua kegagalan dapat diminimalisir, walau sulit dihindarkan.

Karena sesungguhnya, dalam (jatuh) cinta tak ada yg salah. Yang salah adalah subjek yg menerimanya.


FYI ; pemain sepakbola yg saya sebut di awal td adalah Bambang Pamungkas & si Vokalis adalah Akhdiyat Duta Modjo, vokalis Sheila On 7.


 

Sabtu, 02 Juli 2016

PULANG

Posted by Ryan 00.50


“...Eh, udahan ah, gw capek nih. Mw pulang dulu..”

Itu adalah kalimat yg biasa terucap dari mulut anak kecil yg sudah lelah bermain, saya & anda tanpa sadar pasti pernah mengucapkannya. Iya... saat kita merasa sudah cukup lelah dengan apa yang kita kerjakan, entah itu sesuatu yang sifatnya menyenangkan atau tidak, kita pasti butuh istirahat.

 Berhenti sejenak dari penatnya rutinitas, pelarian dari kepenatan.

Kembali pulang.

Pulang menjadi salah satu cara yang paling ampuh untuk mengembalikan semangat.
Seperti kalimat sederhana di awal tulisan tadi, setiap dari kita pasti punya alasan untuk pulang, untuk kembali ke tempat dimana kita merasa nyaman, tenang & terbebas dari rutinitas.

Tempat dimana sederhana terasa lebih dari cukup.

Buat kita yang pernah merantau, pulang ada medium yang tepat untuk membunuh rindu.
Tak perduli berapa jauh & berapa lama kita pergi, kembali pulang adalah momen yang paling dinanti, karna itu adalah saat dimana rindu yang sudah ditabung akan segera ditunaikan dengan tuntas.

Ya... setiap dari kita punya begitu banyak alasan untuk pergi, tapi seluruh dari kita hanya punya  satu alasan untuk pulang kembali, rindu.

Ada begitu banyak fragmen – fragmen kecil tentang pulang (rumah) yang cukup membuat kita rindu.
Masakan ibu, pertengakaran dengan saudara, perbincangan mengenai masa yang telah berlalu dengan kawan adalah sedikit dari banyak alasan rindu itu ada.

Alasan – alasan yang mungkin terdengar remeh, tetapi sesunguhnya kita semua butuh untuk pulang, untuk kembali. Bukan hanya sekedar menuntaskan penasaran tetapi juga untuk menyambung ingatan. Melengkapi perasaan yg mungkin belum tergenapi.

Untuk kalian yang sedang dalam perjalanan pulang, bersiaplah untuk saling berbagi rindu dengan yang dituju. Pulanglah dengan sukacita, tuntaskan rasa penat & lelah yang sudah cukup lama tertahan.

Lepaskanlah & tanggalkanlah semua beban, bersiaplah bertukar senyuman dengan mereka yg juga menunggu kehadiranmu untuk pulang.

Selamat Pulang...




Minggu, 26 Juni 2016

...begitu sederhana...

Posted by Ryan 21.44


Begitu sederhana, tak serumit menjelaskan bagaimana teori darwin tentang evolusi manusia. 

Entah dari mana asalnya namun kau datang dan semuanya pun bermula, tak ada yang terlalu istimewa. Tak lebih dari hari – hari biasanya.

Begitu sederhana, tak perlu berputar – putar untuk menjabarkannya seperti bagaimana rapper menjalin kata untuk menjadi rima lirik lagunya.

 Secara tiba – tiba, semuanya sudah terbangun megah tak dapat ditunda barang beberapa hitungan saja, tak seperti roro jonggrang yang bisa mengakali datangnya pagi & menggagalkan niat suci pencintanya. Kau datang & enggan beranjak pergi.

Begitu sederhana, seperti menjelaskan bagaimana rangga & cinta jatuh hati berulang kali meski terkadang perih datang mengisi waktu – waktu sepi.

Tak ada yg panas di kening ataupun dingin di kenang, layaknya puisi Aan Mansyur. Hanya datar cerita bahwa kau telah ada yang punya & tak menyisakan sedikitpun ruang untuk sekedar bercerita.

Begitu sederhana, hingga aku harus diam cukup lama memikirkan kata agar semuanya terlihat biasa – biasa saja.  

Lalu terdengar bingar tawa malaikat yang berteriak hingga serak. 

Hanya diam yg tersisa, merambat pelan dalam hening & berkata.

Dalam jatuh cinta tak ada yg sederhana.


Aku tak membenci mu & juga cinta, aku hanya tak suka kalian datang dengan penuh kebisuan. Tak ada kata, tak ada cerita.
 

Sabtu, 02 Mei 2015

Another Story...

Posted by Ryan 04.20
Jika Tua Nanti Kita Tlah Hidup Masing – Masing, Ingatlah Hari ini...

Malam itu, di salah satu ruang di kantor, penggalan lirik lagu "Ingatlah Hari Ini" dari Project Pop diatas gw ulang – ulang terus di dalam hati, liriknya simple gak terlalu rumit untuk dipahami, terlalu mudah bahkan. Pesan yang coba disampaikan dilirik tersebut sangat ngena banget untuk tiap perpisahan yang terjadi.

Iyaa... gw baru saja melewati fase perpisahan, berpisah (sementara) dengan keluarga baru gw. Kemarin program training in class yg gw jalanin selama sebulan berakhir. Selama program training itu gw ketemu orang – orang baru yang ngasih pelajaran berharga buat gw pribadi. Mereka ngasih warna baru buat hidup gw. Emang waktunya cuma sebulan, sebentar banget untuk  saling kenal dan berkawan, tapi selama satu bulan itu gw ngerasa deket banget sama mereka, kayak kami udah kenal bertahun – tahun. Dalam bergaul sehari – hari di Mess, kami bisa lepas dan gak ada yang jaim sama sekali, udah kayak keluarga. O iya.. keluarga baru gw ini namanya “Batu Akik”, namanya aneh ? orang – orangnya lebih aneh lagi. :)))

Gw masih ingat dengan jelas hari pertama ketika gw ketemu dengan keluarga baru gw ini. Waktu itu kami dikumpulin di suatu ruangan, gak saling kenal dan dengan latar belakang yang beda – beda. Waktu itu gw sempat beranggapan bakalan susah untuk akrab dengan mereka. Tapi ternyata gw salah,  karena gak butuh waktu lama buat kami untuk bisa berbaur, akrab dan ketawa lepas bareng. Hari – hari selama masa training in class kami lalui dengan banyak warna, cerita dan tawa. Hampir setiap hari kami habiskan bareng – bareng mulai dari pagi sampai pagi lagi. Mulai dari rebutan kamar mandi, rebutan gelas, rebutan tempat duduk pas di kelas, ceng-cengan, nyanyi bareng kayak orang gila, emm.. tunggu bentar deh, bukan kayak orang gila sih, tapi gila beneran, hahahha.. , makan bareng, nyontek bareng pokoknya banyak deh.. sampe2 ke kamar mandi pun kami... ahhh sudahlah hehehehe...

Dan gak terasa sekarang proses in class itu udah berakhir... sejujurnya kedekatan emosional yang terbangun antara kami emang di luar dugaan gw, kami deket banget seperti yang gw tulis sebelumnya, kami udah kayak keluarga. Berantem ? pasti ada, gak seru kalo gak ada berantemnya tapi semua lewat gitu aja, no heart feeling. But most of all, kami lalui satu bulan itu penuh dengan tawa. Rasanya kebersamaan selama in class ini gak pengen ada ujungnya, supaya bisa terus sama – sama. 


here they are....

But life goes on, and like all great things it has come time for it to end. Dan program in class yang kami mulai pada 25 maret 2015 ini pun resmi berakhir pada jum’at 24 april 2015. Sekarang kami (untuk sementara) terpisah tempat training lapangan. Tapi alhamdullilah komunikasi gak putus, kami tetap saling ceng-cengan meskipun cuma lewat tulisan.. hehehehe...

Gw pernah baca sebuah kalimat, isinya gini “Rumah adalah tempat dimana lo ngerasa nyaman”. Rumah adalah tempat dimana kita ngerasa bebas, gak perlu ragu dan takut untuk berekspresi. Dan itu yang gw rasain dengan mereka. Gw ngerasa kayak dirumah...

Sebenarnya ada banyak hal yang pengen gw tulis tapi entah kenapa susah untuk dibahasakan... tapi yang pasti 18 orang yang gw kenal sebulan lalu di kantor gak sulit untuk dijadikan kawan.

Terima kasih.

*Untuk Diki S.D, Rangga L. Tobing, Alamando J.T. Manurung, Ridi Nurdiansah, Arif Herdiyono, Rigi Martusi, Yurnalis S. Lukito, Yudhis Hartanto, Deni N., Khairul Fadhli, Nursamsi W. Aprianto, R. Aj. Diah Ayu K.H, Nurjanah, Ahmad Zaenuri, Soeni Soedwimo, Abdul R. Sinaga, Hanifah R. Rahmawati, Ranti Nur Vazrin, terima kasih untuk satu bulan yang luar biasa. Semoga saja di kemudian hari ada suatu kebetulan yang membuat jalan hidup kita kembali bersilang jalan, dan kita semua bisa berkumpul  kembali dan menceritakan semuanya dengan tawa. 

Seperti penggalan lirik lagu diatas, Jika tua nanti kita tlah hidup masing – masing.... ingatlah hari ini...
Batu Akik.. Yes.. Yes.. Yess... :))))

Antapani, Bandung. 2 Mei 2015

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube